Mei 05, 2016

Menpan: Bidan PTT Jadi CPNS

Hello, mari bergabung Brou.

Kamis, 05 Mei 2016, 03:25 WIB
Red: Angga Indrawan
Republika/ Tahta Aidilla
Yuddy Chrisnandi
Yuddy Chrisnandi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi memastikan pemerintah akan mengangkat para bidan dan dokter pegawai tidak tetap menjadi calon pegawai negeri sipil. Meskipun pengangkatannya tidak secara otomatis.

"Seluruh bidan PTT dan dokter PTT yang jumlahnya 43 ribu sedang diproses menjadi CPNS," kata Yuddy, Rabu (4/5).

Ia mengatakan bahwa mereka tetap akan melalui proses seleksi, yakni tes untuk menjadi CPNS sesuai amanat UU Nomor 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun tes utk bidan PTT dan dokter bukan untuk menggugurkan kepesertaannya mengingat jasa-jasa pengabdian dan pengorbanannya.

"Tes dimaksud untuk menentukan siapa yang lebih dahulu diangkat menjadi CPNS " ujar Yuddy.

Ditambahkan, apabila pada anggaran 2016 belum dapat terangkat seluruhnya, maka yang lain akan diangkat pada tahun berikutnya. "Yang lebih dahulu mengabdi sebagai PTT atau mereka yang sudah diperpanjang lebih dari satu atau bahkan dua kali menjadi prioritas," katanya.

Menteri mengungkapkan bahwa kebijakan ini sudah disampaikan kepada Ketua Umum dan pengurus serta perwakilan daerah Ikatan Bidan Indonesia.

Sebelumnya, Menteri mengatakan bahwa pihaknya harus memastikan bahwa para bidan PTT ini masuk dalam formasi yang diusulkan oleh Pemda ke Kementerian PANRB melalui e-formasi. "Jangan sampai mereka tidak masuk dalam usulan tambahan formasi CPNS Pemda," ujarnya.
Sumber : Antara

Mei 04, 2016

PKI Yang Harus Minta Maaf Ke Negara

FPI: Harusnya PKI yang Minta Maaf ke NegaraPresiden tidak perlu meminta maaf ke PKI. 

Jum'at, 3 Juni 2016 | 20:18 WIB
Oleh : Harry Siswoyo, Moh Nadlir
 Imam besar FPI Habib Rizieq Sihab
saat mendatangi kantor Menkpolhukam, Jumat (3/6/2016) (VIVA.co.id/Moh Nadlir) 


 VIVA.co.id – Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab mengingatkan pemerintah untuk menolak tegas permintaan maaf pada Partai Komunis Indonesia (PKI). Menurut dia, menilik ke sejarah lampau, maka PKI lah yang harus meminta maaf.
"Karena PKI yang salah dan melakukan pengkhianatan serta pembantaian. Justru seharusnya PKI yang minta maaf kepada negara ini, kepada bangsa ini," kata Rizieq usai menemui Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan, Jumat 3 Juni 2016. Menurut Rizieq, sesuai dengan kesepakatan simposium ancaman PKI, secara prinsip apa yang diinginkan adalah bukan menolak rekonsiliasi, tapi menolak Presiden untuk meminta maaf kepada PKI. "Yang kami inginkan adalah rekonsiliasi ilmiah yang berlangsung secara alamiah selama ini," katanya. Rekonsiliasi ilmiah yang dimaksud yakni, rekonsiliasi yang sejak era reformasi sudah terjadi dan berlangsung di tengah masyarakat. Contohnya, anak keturunan PKI sudah mendapatkan hak politik, sosial, dan ekonomi. "Hak sipilnya tanpa dikurangi sedikit pun.Tidak ada halangan lagi. Mereka sudah bisa menjadi gubernur, bupati, wali kota, PNS, TNI, Polri. Saya pikir ini tinggal diperkuat saja, tidak perlu mencari format baru untuk rekonsiliasi yang pada akhirnya bisa menimbulkan konflik horizontal," ujar Rizieq. Terkait kedatangannya di kantor Luhut, Rizieq yang hadir bersama Mayjen (Purn) Kivlan Zein dan Letjen (Purn) Kiki Syahnakri mengaku sengaja datang untuk menyerahkan hasil rekomendasi simposium tandingan tragedi '65. "Itu (hasil simposium) sudah kami serahkan kepada Pak Menko Polhukam untuk diteruskan kepada Bapak Presiden," katanya. ========
Hello, mari bergabung Brou.
Herlina Hasan Basri ke DAERAH ISTIMEWA MINANGKABAU
20 jam
Heboh.... dengan membebaskan 10 sandera; 

Sang jendral kembali menunjukan jati dirinya....

10 sandra dibebaskan dari tawanan kelompok Abu Sayyaf. Mencengangkan, pembebasan sandra tersebut tanpa uang, air mata, apa lagi darah. Alhamdulillah, sungguh luar biasa.
adalah Jendral Kiflan Zein, putra Minang pensiunan TNI. 
Lelaki shaleh dan sangat anti komunis tersebut rupanya jago diplomasi.
Saya yakin dan percaya beliau memakai petuah orang tua, mamak dan guru beliau :
" indak ado karuah nan tak amuah janiah, indak ado kusuik nan tak amuah salasai. Duduk surang basampik-sampik, duduak basamo ba lapang-lapang. Aia janiah sayaknyo landai, jalan rayo titian batu, barundiang cadiak jo pandai, paham duo manjadi satu... saukua kato dibulek-i, saukua paham di samokan.
Kalau dibudaya lain, saya lihat tak seperti itu. Misalnya dalam film-filem kisah berbagai peperangan di luar Minang. Ada perselisihan kirim para pendekar (pasukan), bertemu di jalan... lalu 'parang basosoh'.
Kecamuk perang tanpa perundingan akan melahirkan kezaliman demi kezaliman, dendem berketurunan dan menjadi beban sejarah.
Maka kata orang Minang maambiak contoh ka nan sudah, maambiak tuah ka nan manang. Mengapa orang Minang bisa seperti itu; jawabannya ABS-SBK.
Karena itu, bila cara-cara Minang ini ditinggalkan akan merugikan bangsa bahkan dunia."Aku Bangga Menjadi Anak Minangkabau"
Kivlan Zen
Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat
Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen, S.IP, M.Si (lahir di Langsa, Aceh, 24 Desember 1946; umur 69 tahun) adalah seorang tokoh militer Indonesia. Ia pernah memegang jabatan Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) ABRI setelah mengemban lebih dari 20 jabatan yang berbeda, sebagian besar di posisi komando tempur.
Kehidupan pribadi
Kivlan Zein lahir pada 24 Desember 1946 di kota Langsa, Aceh, dari keluarga perantau Minangkabau. Semasa jadi pelajar ia juga aktif dalam organisasi KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia). Ia masuk Akademi Militer (Akmil) setelah lulus SMA pada tahun 1965. Ia merupakan alumni Akmil angkatan tahun 1971.
Karier
Perjalanan karier Kivlan terbilang mulus, untuk naik ke brigadir jenderal dari posisi kolonel, dia hanya butuh waktu 18 bulan. Sebelumnya karier Kivlan sempat tersendat, pangkat mayor sempat disandangnya selama enam tahun dan letnan kolonel baru dia dapatkan setelah tujuh tahun saat dia bertugas di Timor Timur. Sedangkan pangkat kolonel baru didapatnya pada tahun 1994.[2] Karier puncaknya dia dapatkan sampai jabatan Kepala Staf Kostrad dengan pangkat mayor jenderal dimasa peralihan dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Setelah itu bintangnya pun meredup seiring berubahnya angin politik di Indonesia.[3]
Kiprah sang jendral semakin berkibar...kampuang asal Danau Maninjau dengan suku Guci,setelah masa pensiun beliau tetap membaktikan diri untuk negara dengan membentuk tim pemberantas PKI dan anak keturunannya yg kini sudah mulai berkibar kembali di negara kita,bahkan masuk kedalam partai2 politik, ormas Islam,yayasan sosial,bahkan sampai ke majelis2 agama....wallahualam...hati2 dan waspadai...!! mereka ada dimana-mana....

===========

Tahu Kivlan Zein yang Datang, 

Abu Sayyaf Malu Terima Uang Tebusan


SuaraNetizen.com, JAKARTA -- "Saya tak heran bila Pak Kivlan Zein punya peran dalam pembebasan sandera pelaut Indonesia di Filipina itu. Dia memang hebat. Negosiator hebat. Saya sudah lihat peran dia langsung sekitar 20 tahun silam!’’
Pernyataan itu ditegaskan mantan wartawan senior Republika, Teguh Setiawan, yang kini tengah melanglang buana. Dia menceritakan pengalamannya 20 tahun silam saat ditugaskan beberapa kali ke Filipina, terutama meliput peristiwa konflik di kepulauan Filipina bagian selatan yang dikenal dengan sebutan wilayah bangsa Moro.
"Seluruh elemen bersenjata di wilayah kepulauan Filipina semua mengenal Kivlan. Dia begitu dihormati di sana. Saya tahu berbagai orang penting di wilayah itu, seperti Sultan Sulu hingga Nur Misuari yang menawari Kivlan menikah dengan salah satu putrinya, tapi Kivlan menolak. Padahal, adanya tawaran itu menandakan begitu tinggi atau terhormatnya posisi seorang Kivlan Zein yang saat itu memimpin pasukan perdamaian Organisasi Konferensi Islam yang bertugas di Filipina Selatan,’’ kata Teguh ketika dihubungi Republika.co.id, Senin (2/5).
Teguh kemudian menceritakan bahwa dia bersama putranya yang juga seorang wartawan sempat menelepon Kivlan semalam. Saat itu, Kivlan tengah berada di kediaman Gubernur Sulu. Teguh hanya mendengarkan perbincangan Kivlan dengan putranya.
"Serulah omongan itu. Di sela pembicaraan itu sempat terhenti sesaat ketika terdengar tembakan. Anak saya bertanya, apakah itu tembakan senapan serbu AK-47? Dan itu dijawab Kivlan dengan tertawa, 'Iya, memang kenapa?'’’ katanya.
Dari perbincangan yang didengar bersama anaknya dengan Kivlan, diketahui tak ada uang tebusan yang diberikan. Padahal, Kivlan selaku wakil dari pihak perusahaan itu sudah membawa uang yang mereka minta.
"Rupanya, ketika bertemu, ada beberapa petinggi pasukan Abu Sayyaf yang mengenal Kivlan. Nah, kemudian tak jadi uang tebusan diberikan karena mereka tak mau terima setelah tahu Pak Kivlan yang datang untuk berunding,’’ ujarnya.
Mengetahui fakta seperti itu, Teguh sekali lagi mengatakan tak terlalu heran. Sebab, Kivlan memang punya kualifikasi yang tinggi sebagai seorang juru runding militer.
''Dan, di lapangan, yakni di wilayah konflik itu, saya lihat sendiri betapa Kivlan begitu dihormati, baik sebagai seorang tentara komando, pemimpin pasukan perdamaian, maupun juru runding militer andal,'' ujarnya.
Ketika ditanya soal adanya elite politik partai yang sibuk mengklaim jasa atas pembebasan sandera itu, Teguh hanya mengeluh dan bicara kecut.
"Sudahlah, itu pasti Pak Kivlan punya peran penting. Yang pasti bukan peran sebuah petinggi partai yang saat ini sibuk klaim ini-itu. Emangnya siapa dia? Tak ada anggota pasukan Abu Sayyaf yang kenal dia,’’ kata Teguh sembari tertawa ngakak ketika disebut ada petinggi sebuah partai sibuk mengklaim bahwa dirinya berperan besar dalam pembebasan sandera.
Rupanya, tak cukup diwawancarai, Teguh pun menulis kenangannya bersama Kivlan ketika sepekan berada di Filipina Selatan. Dengan gaya bertutur tenang dan kadang bercanda, Teguh menuliskan pengalamannya sebagai berikut.
Saya merasa tidak aneh mendengar kabar Kivlan Zen terlibat dalam perundingan pembebasan 10 WNI yang disandera Abu Sayyaf.
Tahun 1996, usai penandatanganan perjanjian damai Moro National Islamic Liberation Front (MNLF) dan Pemerintah Filipina di Istana Malacanang, saya dan wartawan Indonesia lainnya berkunjung ke Mindanao.
Pesawat TNI AU mendarat d General Santos City. Kami berjalan menuju Cotabato, dilanjutkan dengan terbang ke Zamboanga.
Tapi keberangkatan saya sempat saat itu tertunda karena harus memberikan kursi kepada satu petinggi MNLF. Saya pun berangkat keesokan harinya.
Setelah bermalam di sebuah hotel di Cotabato, saya melanjutkan perjalanan dengan pesawat kecil; berpenumpang dua orang, ke Zamboanga. Di kota ini saya bertemu Kivlan Zen, yang saat itu menjabat komandan pasukan perdamaian IOC--yang bertugas memantau gencatan senjata.
Di situ saya lihat secara langsung kemampuan Pak Kivlan dalam memimpin negosiasi. Dia mengenal hampir semua petinggi MNLF, keluarga Nur Misuari, dan punya jalur komunikasi dengan kelompok-kelompok lainnya. Ia piawai berunding dengan siapa pun.
Pak Kivlan pula yang mengantar Nur Misuari ke Jolo, ibu kota Provinsi Sulu, untuk mengikuti pemilihan gubernur Autonomous Region of Muslim Mindanao (ARMM). Perjalanan dimulai dari Zamboanga menuju Basilan.
Seusai shalat Jumat dan makan siang di Basilan, perjalanan dilanjutkan ke Jolo (baca: holo). Di kota ini, Nur Misuari menemui pendukungnya dan berkampanye.
Satu hal yang tak pernah saya lupakan dari Pak Kivlan adalah ketika dia mengeluh karena dimintai Nur Misuari menikahi salah satu anak orang nomor satu MNLF itu.
"Saya pusing. Kelamaan di sini, saya disuruh menikah dengan anak Nur Misuari," katanya kepada saya dan wartawan lain. © Republika 

Mei 03, 2016

Ahok Menggusur Demi Asing- A seng. ?

Hello, mari bergabung Brou.
pengusaha dan Ahok

Dosen Unhan: Ahok yang Menumpang di DKI ini, Menggusur Mengerahkan Tentara Demi Asing

 
37
ahok pengusaha cina
FAKTANEWS – Dosen Universitas Pertahanan (Unhan) Muhammad Dahrin La Ode mengatakan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tengah dimanfaatkan pemodal asing dalam proyek reklamasi teluk Jakarta. Bahkan, dalam penggusuran Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara Ahok tidak berani menghadapi warga untuk berdialog.

“Dalam reklamasi, Ahok sebagai pemimpin itu malah yang dikuasai. Dikuasai pengusaha asing demi keuntungan mereka,” kata La Ode di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (28/4/2016).
Dalam memimpin Jakarta, menurut dia, Ahok hanya menyengsarakan warga Ibu Kota. Pasalnya, hingga kini pemerintah belum mampu membuat lapangan pekerjaan.
“Masyarakat kota Jakarta itu belum terpenuhi kesejahteraannya. Pemerintah (DKI) masih belum bisa memberikan kelayakan hidup masyarakat,” pungkasnya.
Seharusnya, kata dia, Ahok lebih mengedepankan kesejahteraan masyarakat Jakarta ketimbang pihak asing. Bahkan, Ahok mengerahkan polisi dan TNI untuk kepentingan asing.
“Lebih jauh, Gubernur Ahok itu, yang notabenenya menumpang di Jakarta ini, dia justru memberikan kesejahteraan pada asing. Dia bahkan mengerahkan tentara demi tujuan asing, seperti penggusuran,” imbuhnya.
Sementara itu, Koordinator Jaringan Aksi Lawan Ahok (JALA) Sunarto mengaku aneh, Pemprov DKI yang seharusnya membuat warga Ibu Kota sejahtera ini malah sebaliknya. “Itu menandakan, adanya tata cara jahat dalam pengelolaan pemerintahan ini,” pungkasnya.
Sumber : sindonews

Mei 02, 2016

Kejagung Proses Proyek Hambalang

Hello, mari bergabung Brou.

Oleh : Ray Muhammad | Senin, 2 Mei 2016 | 21:46 WIB
Kejagung Akan Proses Proyek Hambalang
Kejagung Akan Proses Proyek Hambalang
 twitter   
INILAHCOM, Jakarta - Kejaksaan Agung memastikan akan memproses adanya temuan penyimpangan dalam pengadaan barang dan fasilitas di kompleks Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
"Sudah, semua diproses dan disidangkan. Tinggal nanti ditunggu bagaimana kelanjutannya dan akhirnya bagaimana, itu nanti putusan pengadilan. Masalah fisiknya juga ini sedang dibicarakan," tegas Prasetyo di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Senin (2/5/2016).
Lebih lanjut, saat ini Kejagung tengah mendalami kasus ini lebih jauh untuk menentukan langkah hukum selanjutnya.
"Ya, memang ada beberapa penyimpangan. Juga ada indikasi korupsi," pungkasnya.[jat]
- See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2292654/kejagung-akan-proses-proyek-hambalang#sthash.k3pRy3OV.dpuf

""Tidak kapok berlayar, gara gara penyanderaan"

Cerita Sandera Soal Rokok dan Ramahnya Kelompok Abu Sayyaf

Wendi Rakhadian (28) bersama sang ayah usai dibebaskan kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina, Selasa (3/5/2016) (VIVA.co.id/Wahyudi Agus)

Cerita Sandera Soal Rokok dan Ramahnya Kelompok Abu Sayyaf

Awalnya para sandera begitu ketakutan saat lihat kelompok Abu Sayyaf.
Rabu, 4 Mei 2016 | 06:33 WIB


VIVA.co.id – Wendi Rakhadian (28) - yang disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina dan telah dibebaskan pada Minggu 1 Mei 2016 - merekam kenangan baik selama ditahan bersama kelompok yang telah berafiliasi dengan ISIS di Suriah. Menurut Wendi, selama disandera sejak 26 Maret 2016, awalnya mereka begitu ketakutan saat melihat kelompok bersenjata Abu Sayyaf.
"Jika satu dari kalian bikin masalah, maka semuanya akan kena," kata Wendi menirukan salah seorang anggota Abu Sayyaf, Selasa 3 Mei 2016.
Namun demikian, kesan seram itu ternyata tak sepenuhnya benar. Ternyata saat sudah di daratan dan sejalan waktu. Kelompok bersenjata Abu Sayyaf ternyata tak pernah melakukan kekerasan terhadap Wendi dan sembilan rekannya sesama awak kapal Brahma 12.
"Mereka memperlakukan kami dengan baik dan tidak memberikan kekerasan," kata Wendi. "Sehingga kami merasa aman-aman saja meski sangat cemas dan berharap segera pulang."
Wendi pun mencontohkan salah satu perlakuan baik yang mereka alami. Yakni soal berbagi rokok. Ternyata, kata Wendi, sandera diperkenankan untuk meminta rokok dengan mereka yang menjaganya. "Kalau ingin merokok, kami minta aja ke anggota Abu Sayyaf bersenjata lengkap yang menjaga kami, dan mereka kasih" ujarnya sambil tertawa.
Perlakuan Sama
Tak cuma itu, menurut Wendi, meski berstatus sandera. Secara prinsip antara sandera dan kelompok bersenjata Abu Sayyaf sesungguhnya sama.
Salah satunya dalam soal makan. Menurut Wendi, tidak ada pembedaan antara sandera dengan mereka yang menyandera. "Kami diperlakukan sama dengan mereka, jika mereka makan kami juga makan dan jika mereka tak makan kami pun ikut pula," katanya.
Meski begitu, Wendi mengaku cukup keletihan selama ditawan Abu Sayyaf. Sebabnya, mereka kerap berpindah-pindah lokasi. "Tempat penyekapan berpindah pindah, kadang di hutan dan kadang di rumah, makanya tak bisa mandi kecuali kalau hari hujan dan di tengah hutan," kata dia.
Mobilitas yang tinggi tersebut, lanjut Wendi, membuat mereka akhirnya tidak bisa membersihkan diri dengan leluasa. Dalam ingatannya, selama 35 hari disandera, Wendi dan rekannya hanya bisa mandi lima kali. Itu pun dengan air hujan yang turun.
Umumnya, kata Wendi, dalam setiap pergerakan, seluruh sandera pasti berjalan kaki dari hutan ke hutan. Sekurangnya selama tiga jam perjalanan. Langkah itu untuk menghindari kejaran militer Filipina.
Hingga akhirnya tiba pada satu waktu, sepuluh sandera dibawa dengan sebuah perahu dan ditambah jalan kaki selama setengah jam, para sandera yang sudah tidak tahu waktu dan tanggal, dibawa ke sebuah truk.
"Waktu itu sekitar siang, setelah berjalan kaki kami melihat sebuah bus yang sudah menunggu, kami pun disuruh naik," paparnya.
Sejam mobil berjalan, mereka pun sampai di sebuah rumah yang ternyata rumah Gubernur Sulu, Abdusakur Toto Tan II yang sudah menunggu dan mempersilakan masuk. Mereka dijamu makan siang dan diberi pakaian ganti.
"Kami dihidangkan makanan, mulai dari ikan gulai, ikan bakar, gulai daging, dan minuman bermacam macam. Bayangkan saja, selama 36 hari makan kami tak jelas, tapi setelah dihidangkan di rumah gubernur Sulu, rasanya ingin menyantap semua," kata Wendi.
Hinga di sore hari, mereka pun dibawa menggunakan mobil ke pangkalan Filipina dan langsung naik helikopter menuju Zamboanga dalam dua jam perjalanan dan kemudian berpindah ke pesawat yang membawanya pulang ke Indonesia.
Meski begitu, Wendi tetap mengaku tidak kapok dengan pembajakan. Putra sulung Aidil dan Asmizar ini mengaku akan tetap jadi pelaut.
"Tidak kapok berlayar. Meski gara gara penyanderaan tersebut mengalami turun berat badan hingga 10 kilogram," tutup dia.
(ren)


Cerita tim negosiator :membebaskan 10 WNI 

BerbagiKabar - Pihak KBRI Manila mengonfirmasi pembebasan 10 WNI yg disandera oleh grup militan Abu Sayyaf yaitu murni memakai trik negosiasi. Minister Counsellor-Political Affairs KBRI Manila, Eddy Mulya mengemukakan proses pembebasan itu pula dinamakan melibatkan tidak sedikit pihak, mulai sejak dari KBRI, TNI sampai pemerintah Filipina. 

"Iya ini full negosiasi. Di KBRI ada unsur diplomat sama unsur TNI, kita libatkan seluruh. Menjadi ini kerja tim semuanya. Namun, aku masuk di tengah-tengah (proses negosiasi), tak dari awal," di Lanud Halim Perdanakusuma, Senin (2/5). 

diluar itu, Eddy menyebutkan proses negosiasi ini terjadi tatkala 1 pekan. Negosiasi pembebasan WNI itu, lanjutnya, dilakukan bersama trick pendekatan & komunikasi ygintensif bersama group Abu Sayyaf. 

"Intinya ini kan ada anak nakal dalam satu keluarga. Kan ada anak nakal, nah gimana kita komunikasi dgn itu. Setelah Itu ada yg dituakan, dihormati. Nah semuanya itu,aku cuma tindaklanjuti," tuturnya. 
Ditambahkannya, ia pula mengaku ada keterlibatan Tim Kemanusiaan Surya Paloh dgn bersama Yayasan Sukma (Sekolah Sukma Bangsa di Aceh) di gerakkan oleh Ahmad Baedowi & Samsul Rizal Panggabean dalam proses pembebasan ini. 

Negosiasi terjadi tidak tersendat sebab Eddy & tim Baidowi telah melaksanakan riset & penelitian soal berkenaan menyangkut motivation and root causes of terrorism di wilayah Filipina sejak 2012 silam. & hasilnya terjun serta-merta dalam tim negosiator & menolong pemerintah Indonesia sejak info penyanderaan Abu Sayyaf itu beredar. 

"Jadi itu ada sohib aku, Pak Baidowi sama kawan-kawan. Mereka yg atur, menjadi kita hanya tindak lanjut. Kita kan riset di sana, kita bikin pendidikan dari 2012. Kita bangun pendidikan, beasiswa," jelas Eddy.

Sumber:Merdeka.com
======

Posisi 4 WNI Sandera Abu Sayyaf Lainnya Terlacak

By 

Liputan6.com, Jakarta - Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein mengatakan, saat ini dia masih berada di Filipina untuk terus mengupayakan pembebasan 4 WNI yang masih disandera kelompok Abu Sayyaf.

Kivlan Zein adalah salah satu negosiator dalam upaya pembebasan 10 WNI sebelumnya. Ke 10 WNI yang sudah dibebaskan itu adalah anak buah kapal Brahma 12. Sementara 4 WNI yang masih disandera adalah ABK TB Henry.

"Jadi kita telah mengetahui letak posisi mereka di mana. Saya sudah kontak dengan yang pegang 4 orang itu. Semoga bisa kita bebaskan," kata Kivlan seperti dikutip Antara, Senin (2/5/20160.

Mantan Kepala Staf Kostrad ini meminta, agar tidak ada upaya-upaya yang justru akan mengacaukan perundingan yang saat ini sedang berjalan. Apalagi pihak-pihak yang hanya ingin mencari nama.

Kivlan menceritakan, dia bernegosiasi dengan kelompok Abu Sayyaf sejak 27 Maret 2016. Sejak hari itu, kata Kivlan, pihaknya terus melakukan pendekatan atas nama perusahaan PT Patria Maritime Lines. Kivlan juga mendapat bantuan dari pihak lokal di Filipina.

Terutama, kata Kivlan, bantuan diberikan oleh Gubernur Sulu Abdusakur Tan II yang merupakan keponakan pimpinan Moro National Liberation Front (MNLF) Nur Misuari. Bantuan itu sangat berguna karena penculiknya, Al Habsyi Misa, merupakan mantan supir dan pengawalnya saat menjadi Gubernur Otonomi Muslim di Mindanao atau ARMM pada 1996-2001.

"Maka, saya sebagai wakil perusahaan meminta bantuannya untuk membujuk sang penculik WNI, dan berhasil membujuknya," kata Kivlan.

Anggota Badan Intelijen Strategis (Bais) dan intel Filipina mendekati kepala desa, camat, wali kota, dan gubernur Sulu untuk membujuk penculik. Mereka juga mengancam akan melakukan serangan militer dan pemboman kepada kelompik militan itu.

Dengan negosiasi dan tekanan itu, maka kelompok Abu Sayyaf melepaskan sanderaWNI.